Thursday, December 29, 2011

Kampanye Politik dan Budaya Populer



Apa yang terjadi apabila budaya populer masuk ke dalam ranah politik? Dua unsur yang sepertinya sangat bertolak belakang untuk dapat dipadukan, namun fenomena tersebutlah yang telah terjadi hari ini. Politik dan budaya merupakan unsur yang terbuka sehingga keduanya dapat melakukan interpenetrasi untuk melakukan penyatuan kode yang membentuk suatu perilaku politik kultural. Namun dalam interpenetrasi politik kultural ini, budaya seakan berada dalam posisi yang dimanfaatkan untuk dapat memenuhi kebutuhan politik. Pemanfaatan budaya populer dalam sebuah perilaku politik dianggap sebagai strategi baru dalam dunia politik. Tujuannya adalah untuk dapat memenuhi kepentingan politis para aktor politik.Seiring perkembangan zaman dan pesatnya modernitas, para aktor politik semakin sadar bahwa pendekatan secara kultural sangatlah penting untuk dapat meraih perhatian publik secara luas. Budaya populer salah satunya dimanfaatkan sebagai kendaraan yang diarahkan kedalam ranah politik oleh para aktor untuk dapat memenuhi kebutuhan politik mereka.

Penggunaan budaya populer sebagai alat politik dirasa cukup cerdas, melihat budaya populer sangat identik dengan generasi muda, maka sekiranya dengan adanya unsur pop culture dalam sebuah iklan politik maka sebuah kampanye yang bersifat politis dapat terkemas secara lebih menarik dan jauh dari kesan high context yang sudah melekat dalam dunia perpolitik. Kondisi ini nantinya akan mempermudah para aktor politik dalam merangkul generasi muda yang terkenal dengan apatisme mereka terhadap dunia politik. Terlebih lagi peran budaya populer yang mewakili suara mayoritas merupakan sebuah sasaran empuk yang dapat dimanfaatkan untuk memperoleh dukungan politis dari khalayak secara luas. 

Pemanfaatan budaya populer sebagai alat politik salah satunya dapat dikemas dalam bentuk kampanye iklan, seperti tv commercial, poster, banner, baliho dan media iklan lainnya.Pemanfaatan eksistensi budaya populer dalam masyarakat oleh aktor politik yang dikemas dalam bentuk iklan cukup marak berkembang di dunia perpolitikan Amerika. Salah satu politikus yang cukup gencar memanfaatkan keberadaan pop culture dalam masyarakat adalah Barrack Obama ketika menjalani pemilihan presiden Amerika pada tahun 2008. Ketika masih berstatus sebagai calon presiden dari Partai Demokrat, dengan cerdas Obama mencoba merangkul masyarakat Amerika melalui pendekatan kultural melalui wadah iklan politik. Sebagai contoh, ketika masih dalam masa kampanye Presiden pada tahun 2008, Obama menggunakan musik populer sebagai media dan wadah kampanye politiknya. Ia memanfaatkan artis – artis populer dalam bidang musik untuk menciptakan sekaligus merekam sebuah lagu easy listening yang berjudul “yes we can!”, sebuah judul lagu yang sebenarnya juga merupakan jargon dari kampanye Obama itu sendiri. Lagu tersebut akhirnya dipublikasikan melalui media video clip agar dapat dipublikasikan kepada khalayak melalui situs pengunduh video seperti Youtube, Metacafe, dan lain sebagainya. Melalui strategi ini, Obama sukses mengajak generasi muda untuk tertarik dengan isu politik dan pada akhirnya mangarahkan mereka untuk mendukung dirinya terpilih sebagai presiden Amerika ke-44.

Masih memanfaatkan musik populer, pada cover majalah Rolling Stone edisi bulan July 2008 wajah Obama terpampang bersama headline majalah yang berjudul “A New Hope”. Jika diperhatikan, penampakan Obama di cover majalah Rolling Stone terlihat aneh. Pasalnya Rolling Stone merupakan majalah yang membicarakan mengenai isu musik populer di Amerika bahkan internasional. Namun bisa – bisanya Obama yang bergerak dalam ranah politik, dibicarakan oleh sebuah majalah yang bergerak dalam bidang musik populer. Obama telah sukses memanfaatkan media cetak yang tidak berkecimpung dalam ranah politik dan intelektual, bahkan majalah ini bersegmentasi pada orang – orang yang apatis terhadap dunia perpolitikan seperti seniman, musisi dan lain sebagainya. Hal ini adalah sebuah pencapaian yang luar biasa dimana Obama dapat menjangkau ranah yang sebenarnya jauh dari jangkauannya.

Pemanfaatan budaya populer melalui wadah media oleh para aktor politik sudah dianggap sebagai strategi politik di era kekinian. Pendekatan politik yang dilakukan secara kultural mulai gencar diberikan. Namun sayangnya fenomena ini masih jarang terjadi di Indonesia, padahal Indonesia merupakan bangsa yang memiliki unsur kebudayaan populer yang cukup beragam. Sekiranya dunia perpolitikan kita perlu untuk belajar dengan Amerika dan dunia barat dimana keberadaan budaya populer dan media dimanfaatkan secara cerdas untuk dapat menghasilkan output positif dalam dunia perpolitikan.


Gambar 1 : Pemanfaatan "pop art" melalui kampanye dalam bentuk poster

Gambar 2 : Pemanfaatan popularitas olahraga basket di Amerika, dimana digambarkan bahwa Obama hobi bermain basket dalam kehidupan sehari harinya.

Gambar 3 : masih memanfaatkan popularitas olahraga basket, dalam kampanye politiknya, terlihat salah satu pelatih basket di Amerika memberikan kostum secara simbolis kepada Obama.
Gambar 4 : Obama menjangkau wilayah populer, kali ini dalam bidang musik.







Thursday, November 17, 2011

'United and Rising' yang (hanya) Sekedar Frasa


Penyelenggaran Sea Games di Palembang - Jakarta sudah berjalan tepat selama tujuh hari sejak dimulai pada tanggal 11 November 2011 kemarin. Berbagai cabang olahraga telah dipertandingkan bahkan dalam seminggu ini sudah 815 medali yang dikalungkan kepada para atlet. Namun apakah hajatan dua tahunan yang telah berjalan selama sepekan ini sudah memberikan dampak positif dalam menjalin hubungan baik antar negara – negara asia tenggara? Nanti dulu, iklim hubungan yang kurang sejuk masih saja muncul antara Indonesia dengan Malaysia, kali ini di arena olahraga. Seakan pertandingan yang dilakukan malah semakin meningkatkan rivalitas yang tidak sehat antara kedua negara satu rumpun ini yang sebelumnya sudah berseteru dalam ranah politik dan hukum.
Pertandingan semifinal Sea Games untuk cabang olahraga sepakbola yang diadakan semalam pada tanggal 17 November 2011 dapat dijadikan sebuah cerminan. Iklim pertandingan yang panas, penuh dengan pelanggaran, dan banjir kartu kuning serta satu kartu merah merupakan pemandangan yang dapat disaksikan pada laga tadi malam. Beberapa Tackle yang diberikan oleh para atlet dari kedua kubu seakan diniatkan untuk mencederai lawan, bukan untuk merebut bola dari lawan. Sangat disayangkan apabila rusaknya hubungan Indonesia dan Malaysia juga dibawa dalam ranah pesta olahraga.
Jika aletnya saja panas bagaimana dengan supporternya? Tentu saja supporter akan semakin emosional melihat para jagoan – jagoan mereka yang juga bermain secara emosional. Sorakan yang bersifat provokatif dan bernada negatif cukup santer diberikan. Contohnya tadi malam stadion sangat heboh dengan suara supporter yang bersorak “huuuu..” hanya karena keja kiper Malaysia terpeleset. Sungguh hal sepele yang sangat dibesar- besarkan yang dapat meningkatkan panasnya iklim pertandingan.
Mungkin kita lupa dengan bunyi Tagline Seagames 2011 yang sering terpampang pada billboard, baliho, spanduk, dan media publikasi lainnya. Padahal alangkah baiknya apabila kalimat ‘United and Rising’ dapat dipahami dan diimplementasikan oleh para atlet dan supporter, tidak hanya sebagai formalitas dan angin lalu saja. Sama sekali tidak tercermin ‘United’ pada laga tadi malam. Padahal harapannya dengan diadakannya sea games mampu menciptakan persatuan dan hubungan yang baik antara negara - negara di asia tenggara.
Alangkah baiknya jika pertandingan olahraga di sea games 2011 dianggap sebagai sebuah laga persahabatan namun tetap bersifat kompetitif. Janganlah kita membawa konflik yang sudah terjadi antara Malaysia-Indonesia kedalam ranah olahraga. Karena dalam ranah olahraga sendiri sudah sangat kental dengan konfrontasi dan persaingan, tentunya akan menimbulkan hal negatif apabila persaingan ini disikapi secara tidak sehat dan saling menjatuhkan.
Penulis berharap tercipta sportifitas dan suhu yang lebih dingin pada laga selanjutnya antara Malaysia-Indonesia dalam cabang olahraga apapun. Hal ini kembali kepada para atlet dan supporter untuk bersikap lebih dewasa dan tetap menjunjung tinggi sportifitas dalam setiap pertandingan yang diselenggarakan. Tentunya kita menginginkan terbentuknya persatuan dan hubungan yang lebih harmonis antara Indonesia - Malaysia yang kali ini (seharusnya) dapat dimediasi oleh ajang olahraga Sea Games sesuai dengan tagline yang dikampanyekan, "united & rising".

Friday, September 30, 2011

sekarang 'gaul', besok 'alay'

perkembangan zaman dapat merubah term 'gaul' menjadi 'alay'. Tentunya perubahan ini memakan waktu yang tidak sebentar bahkan kita terkadang tidak menyadari bahwa perubahan tersebut terjadi. Sebagai contoh, mungkin kita pernah ingat mengenai tulisan dengan huruf besar kecil. Menyusunnya saja membutuhkan tenaga berlebih karena harus mencet2 tombol shift dengan frekuensi lebih sering. Tapi ingat bahwa style seperti itu pernah populer dan saya pernah rela berlelah lelah menekan tombol shift lebih sering dan memeras otak lebih keras untuk menyeleksi huruf mana yang harus dibesarkan hanya agar dianggap keren (ini labil) . Dahulu kala, muda mudi, termasuk saya (mungkin skrg udh tua) menganggap bahwa tulisan dengan hruf gEdE KeCiL itu GauLL..Tetapi mari kita lihat realita hari ini bahwa anggapan alay telah terbentuk bagi orang yang menggunakan tulisan besar dan kecil. Ternyata telah terjadi pengkhianatan yang begitu masif kepada 'style huruf gEde keCil' oleh para mantan fans2nya.

Contoh lain, dapat saya lihat ketika membuka friendster dan menemukan foto - foto lama sewaktu saya smp. Hati saya berkata, 'ih gw dulu alay bgt ya' sambil melihat culunnya saya di dalam sebuah foto yang tercipta akibat proses mengcapture diri sendiri dengan hp dari sudut 180 derajat. Padahal sewaktu pertama kali mengupload foto tersebut, saya berpendapat bahwa foto tersebut adalah foto tergaul yang pernah saya miliki. Namun 6 tahun kemudian malah saya sendiri yang berpendapat bahwa foto tersebut 'alay'.

Fenomena ini menandakan bahwa sesuatu yang dulunya memiliki status 'gaul' nantinya berubah status menjadi 'alay'. Perubahan persepsi gaul menjadi alay merupakan bukti terjadinya sebuah proses perubahan dan dinamika kehidupan yang memunculkan keragaman. Sebuah gaya hidup gaul yang baru adalah embrio dari lahirnya gaya hidup alay yang baru.

Thursday, July 14, 2011

Jadi juga nonton gig erk

Setelah dipost sebelumnya gw udah memberikan penjelasan bahwa ERK batal tampil bulan maret 2011 di taman budaya Jogja, eh ternyata dua bulan selanjutnya ada anak SMP 1 Yogyakarta yang pinter - pinter and manis - manis bikin acara pensi yang bintang utamanya adalah Efek Rumah Kaca. y ini kaya pengganti dari gig sebelumnya yang batal karena masalah perijinan tempat d taman budaya.
Ga pake pikir panjang gw langsung mengagendakan tanggal 25 untuk nonton gig, mumpung uas udah selesai dan gak ada lagi beban pikiran kuliah. Soalnya jarang - jarang ni band diundang ke Jogja, biasanya paling yang sering sih di Jakarta bandung gitu..

Acara mereka diadakan pada tanggal 25 bulan juni tahun 2011. Nama acaranya "Jogja macangkrama Ing sukha Kaliyan", dan pas nulis post ini gw baru nyadar nama acara mereka seribet itu. Padahal panitianya anak smp, hebat2 ternyata selera mereka berat2 juga *takjub..Berikut penampakan publikasinya.


Nemu ni poster di berbagai sudut kota jogja. tapi ko tim publikasinya kecil bgt masang font contact personnya,,keliatan gak?

Sebenernya di hari sebelumnya ERK juga tampil di solo, ada niatan pengen ke solo sih, tapi males acaranya malem dan balik ke jogja jam segitu males juga dah gak ada pramex(prambanan ekspres)...
Akhirnya gw putusin untuk nonton gig yang di jogja ajah. Mumpung murah deket kos pula, daerah gejayan di di RRI Yogyakarta.

Kronologis kejadian...

Pukul 16.00
Seperti yang dijanjikan di poster bahwa acara akan dimulai pada pukul 16.00, dengan keyakinan penuh dan tekad yang bulat gw lets go ke RII Yogyakarta jam 4 sore. Sampe sana ternyata situasi terpantau masih lengang, gak padat merayat apalagi macet total...yang ada cuma panitia acara doank. Emang bener sih kayanya gw kerajinan banget, lupa kalo kita punya budaya ngaret yang susah untuk dihilangkan. Setelah nanya - nanya panitia, eh ketemu manajer erknya juga, katanya acara bakal dimulai abis magrib, dan ERK tampil jam 9 malem. Ok deh kalo di Indonesia wajar lah ngaret, untung gw orang Indonesia, jadinya nyantai aja ada acara ngaret haha..so jadinya gw inisiatip aja beli tiket, supaya gak keabisan ceritanya *berasa pre sale paramore yang 2 jam abis...

Pukul 19.00
Hari sudah mulai gelap, gw sama dua orang temen gw yang lain, si pito sama si jamil lets go ke Radio RRI. Acara udah mulai sih, tapi masih diisi sama band - band sma yang musiknya penuh dengan high distortion,,kurang suka haha...

Pukul 20.30
Setelah sebelumnya beberapa band sma dan smp udah pada tampil, akhirnya giliran band2 indie undangan yang berkesampatan buat tampil. Band - band tersebut adalah Sri Plecit, Dirty Light sama Snap Capsules. Diantara ketiga band itu gw paling suka yang dirty light, mereka maen instrumental pake 2 gitar akusik sama satu bass *kalogaksalah. Walaupun instrumental tapi aransemennya gak kosong and enak didenger. Ada momen kocak pas gitar yang dipake salah satu personel mereka mati, kayanya sih ada masalah di kabel jek,,langsung deh SEnya bergerak cepat untuk mengatasi masalah yang terjadi,,,lagu pun terus mengalun, padahal suara gitarnya si gitaris satu ini blm nyambung ke ampli, akhirnya satu lagu itu diabisin bwt ngurus soundnya sang gitaris, dan pas lagu selesai jeknya baru nyambung haha..

Pukul 21.00
akhirnya penampilan band undangan ketiga, yaitu sri plecit..mereka bergenre ska sih, jadi rada kurang suka hehe,,tp lumayan asik lah buwat goyang...Setelah sri plecit selesai nampil, selanjutnya giliran tamu utama kita, efek rumah kaca! langsung deh gw sama temen gw pito maju ke saf paling depan, di depannya mas cholil pas! biar makin khusyu ntn konsernya...
Pas cholil muncul dari backstage, keliatan banget ada yang berbeda disaat gw liat dia(cholil) di foto sama d dunia nyata,, lebih gemuk, ato gara2 udah kaya kali ya jadi gemuk? abis ntu pakean cholil rapi banget kaya abis pulang kantor haha xD...
lagu pertama diawali dengan Jatuh Cinta Itu Biasa,,lumayan pemanasan dulu :P..berikut set list konser kemarin...























Sumber :
(poto kertas setlist yang di bawah kakinya cholil,, gtw ada yang ngambil)




Alhamdulillah dpt saf terdepan, jd bisa liat dari deket,,,





Balerina...sori suaranya pecah,,pake hape soalnya hehe...




kepincut juga sama akustik yang dipake cholil pas desember, sama lagu kesepian...mungil bgt akustiknya...tp bukan ukulele :P,,

terinspirasi sama cholil yang kalo nyanyi udah kaya melayang ke langit berapa gitu, menghayati banget sambil merem2,,outputnya jg selaras sih, esmosi yang ia sampein juga diterima penonton...

Abis ngeliat gig ini, jadi kepikiran kayanya enk jadi artis yg udah agak mapan, semuanya udah dimanage secara terstruktur,,mulai dari sound, instrument, set list,,jadi dateng2 tinggal angkat gitar, maen dah menghibur penonton, hmm...




Thursday, May 26, 2011

Seonggok Kayu sebagai "Media" Komunikasi

Bagi yang suka bermain alat musik, terkadang memiliki keinginan untuk menampilkan kemampuan yang kita miliki kepada orang lain. Manusiawi memang, namun ingatlah bahwa musik bukanlah alat 'pencitraan', dan ingat juga bahwa kita tidak sedang tampil sendirian. Kita tampil bersama instrument musik yang kita gunakan, dan sering kali kita melupakan peran dan hasil jerih payah mereka disaat bermusik.

Gambar 1. Cholil Mahmud (ERK) bersama Fender Telecaster Standard

Saya menganalogikan bahwa ngegitar merupakan sebuah proses komunikasi. Disaat bermain gitar, kita dan gitar yang kita pegang ibarat sedang berkomunikasi secara linier dengan komunikan. Pemain gitar adalah komunikator dan pendengar adalah komunikan. Pesan yang disampaikan adalah suara dan alunan gitar yang kita mainkan. Sedangkan channelnya adalah amplifier, dan gitar itu sendiri. Pesan akan tersampaikan dengan baik kepada komunikan apabila kita mampu memaksimalkan energi diri kita, dan energi gitar yang kita mainkan...
Seorang gitaris membutuhkan gitar untuk dapat memfungsikan kemampuan yang ia miliki. Dalam hal ini gitar berperan sebagai sebuah "media". Media untuk menyampaikan 'pesan' kepada para pendengar. Sebaliknya, sebuah gitar juga tidak dapat berperan apa - apa ketika tidak ada orang yang mau memainkan dirinya. Bagi sebuah gitar, manusia adalah media yang ia (baca : gitar) gunakan untuk dapat menyampaikan suara merdunya kepada pendengar.



Gambar 2. Alex Turner (arctic monkeys) bersana Vintage Ovation Viper
Ibarat ber-fusion dalam serial kartun dragon ball , kita pun secara tidak langsung juga dapat melebur bersama gitar yang kita mainkan. Berfusion dalam hal ini bukan berarti kita menyatu dengan kayu gitar, tetapi berfusion yang dimaksud dalam hal ini adalah menyatukan jiwa kita dengan gitar dan menyadari bahwa diri kita sedang menyampaikan sebuah 'pesan'. Semakin sempurna kita melebur bersama, maka 'pesan' yang terbentuk juga akan semakin indah. Tidak hanya itu, kenikmatan dan kepuasan juga akan kita dapatkan ketika kita 'bermain' dengan penuh 'keintiman' bersama gitar yang kita pegang.


Gambar 3. Tom Delonge bersama gibson ES - 333 custom.

Sunday, May 22, 2011

ERK batal ke taman budaya

Para pembaca yang budiman dan terhormat, bagi saya cukup mengecewakan setelah mendengar kabar bahwa ERK batal untuk tampil di taman budaya Yogyakarta. Padahal semenjak tau ERK akan tampil di Yogyakarta, ane udah mempersiapkan diri secara fisik dan mental untuk bertemu Cholil dan kawan - kawan untuk berkaraoke bersama. Entah kenapa antusiasme ane untuk menyimak gig band indie tersebut lebih besar ketimbang menyimak band - band Indonesia papan atas yang udah sering ngamen di Yogyakarta. ERK membuat ane antusias untuk menyimak gig band Indonesia xD...bukan dengan performancenya, tetapi dengan musikalitasnya... Masalah perijinan tempat yang katanya menjadi biang kerok. Informasi ini ane dapatkan di twitter, ini nih penampakannya.


Kicauan itu awalnya disampaikan oleh @yuraiii..yang mengecewakan, tweet si @yuraiii itu di RT oleh @efekrumahkaca yang merupakan akun twitter resmi milik efek rumah kaca. Hal ini secara gak langsung menunjukkan bahwa ERK positif dengan informasi yang diberikan @yuraiii. Begitulah..

Tapi gig itu cuma hiburan. yang terpenting, kita terus berkarya dengan tetap menanamkan idealisme dalam hati. Bukan hal gampang, tetapi mari terus berusaha..:)

*masih menunggu untuk album ketiga yang katanya akan rilis di tahun ini...

Sumber Foto : fajarprasetyo.blogspot.com