Tuesday, July 16, 2013

"Kuantitas" yang Melupakan "Spiritualitas"

*refleksi diri*
Setelah sekian tahun menganut agama islam, dari lahir hingga sekarang, saya mulai berpikir bahwa sepertinya peribadatan yang saya lakukan selama ini (secara pribadi) lebih mengutamakan pada segi kuantitas, daripada kualitas dan nilai spiritual yang seharusnya saya dapat dari sebuah agama. Setujukah anda bahwa pengutamaan kuantitas yang berlebih dalam sebuah ibadah itu malah  akan mengurangi esensi spiritual dari ibadah itu sendiri? Sebagai contoh, si A setiap hari membaca Al-Quran bahkan ia kerap menamatkan kitab suci tersebut lebih dari satu kali di bulan Ramadhan. Ketika ditanya mengapa ia bisa serajin itu, si A menjawab, "biar dapet pahala yang banyak", hal ini beralasan karena guru ngajinya pernah mengatakan bahwa setiap huruf yang dibaca dalam Al-Qur'an, bernilai satu pahala. Tetapi sangat disayangkan ketika ditanya apa makna dari satu ayat yang si A baca, ia sama sekali tidak mengerti, "yang penting baca, baca aja udah syukur" katanya. Ada lagi contoh lain, saat saya mengikuti ibadah shalat tarawih beberapa tahun yang lalu di sebuah masjid yang mengaplikasikan metode 23 rakaat. Saat itu saya berasumsi bahwa dengan ditambahkannya kuantitas rakaat, maka saya akan mendapatkan pahala yang berlebih ketimbang tarawih dengan 8 rakaat, namun baru saja  masuk ke rakaat keempat, saya sudah kualahan mengikuti gerakan sang imam yang bahkan tidak memberikan saya waktu untuk bergerak dari satu gerakan ke gerakan yang lain, karena shalatnya ngebut banget. Walhasil saat itu saya ibarat sehabis melakukan olahraga malam ketimbang melakukan kegiatan beribadah.

Melalui fenomena yang saya temui dari orang lain dan diri saya sendiri, saya merasa bahwa  ceramah2, jargon, kutipan, nasihat atau cerita2 islam yang pernah saya dengar sejak kecil memberikan saya mindset bahwa "nanti ada surga dan neraka, surga itu enak, neraka itu menyeramkan. untuk dapat masuk surga kamu harus memperoleh pahala yang banyak, untuk memperoleh pahala yang banyak, maka beribadahlah yang banyak. Hanya sebatas itukah alasan kita beragama? Bukankah keutamaan agama adalah pendalaman nilai spiritual dari ibadah yang dilakukan. Sejak kecil saya sudah diceritakan mengenai kisah dimana  pada saat kehidupan setelah mati, manusia akan dihitung dan ditimbang amal - amal dan dosa kita. Jika pahala lebih banyak daripada dosa, maka kita akan masuk surga, sedangkan jika dosa yang lebih banyak, maka masuk neraka. Cerita - cerita ini memberikan saya pemikiran bahwa saya harus 'banyak - banyak' ibadah supaya masuk surga dan terhindar dari neraka. Tidak dijelaskan bagaimana kualitas saya beribadah, yang terpenting adalah melakukannya dalam kuantitas yang tinggi, dzikir banyak, tapi tidak tahu mengapa kita harus berdzikir, menghafal Al - Qur'an , tapi tidak mengerti apa makna dari yang saya hafal. Dampak dari pendidikan agama seperti itu saya rasakan dewasa kini, dimana kedekatan saya dengan sang pencipta, atau pemahaman saya mengenai makna dari sebuah ibadah seperti shalat misalnya, masih sering saya pertanyakan dalam hati. Ibadah yang saya lakukan sekarang masih sebatas surga - neraka, pahala - dosa. Mengenai esensi spiritual yang saya dapatkan dalam beragama, itu masih sangat minim.

Memasuki bulan suci Ramadhan, ceramah - ceramah islam pun sering kita temukan di masjid dan televisi. Hal yang terpikirkan oleh saya ketika memasuki bulan suci Ramadhan adalah, "pahala yang akan dilipatgandakan", karena para penceramah dan ustad2 lebih sering menjelaskan keutamaan bulan Ramadhan yang bisa melipatgandakan pahala ibadah. Ketika SMA dulu di bulan puasa saya selalu berpikir bahwa Ramadhan adalah kesempatan untuk memperoleh pahala yang banyak, sehingga tilawah Al- Qur'an sebanyak - banyaknya saya lakukan, tapi saya tidak mengerti dan tidak memperoleh esensi spiritual dari apa yang saya baca atau nilai - nilai dari kegiatan berpuasa. Saya sudah merasa aman bahwa saya akan memperoleh pahala yang banyak, apalagi  akan dihitung satu huruf satu pahala, ditambah pelipatgandaan di bulan Ramadhan. Soal nilai - nilai dan kedalaman pemahaman dari apa yang saya baca, itu nomor dua, pikir saya ketika SMA dulu.
Pengalaman saya beragama dan berstatus islam sejak kecil  serta  melihat  fenomena sehari - hari memberikan pemikiran baru bagi saya bahwa esensi spiritual dan manfaat dari ibadah itu jauh lebih penting ketimbang kuantitas ibadah yang tinggi. Tetapi akan lebih baik lagi apabila kuantitas ibadah yang tinggi seimbang dengan pemahaman terhadap sisi spiritual dari ibadah yang kita kerjakan. Dengan itu semoga kita adalah mendapatkan sisi spiritual dan manfaat dari sebuah ibadah. "Pendapat saya bisa jadi benar, tetapi mungkin juga salah." Sekian

Sunday, July 14, 2013

cuci tangan anomali ala lifebuoy

cuci tangan pake sabun sebenernya cuma memakan waktu 2-3 detik. setelah lifebuoy bilang bahwa pake produk mereka bisa lebih "singkat" karena cuma memakan waktu 10 detik, durasi cuci tangan malah jadi lebih lama.






Wednesday, July 10, 2013

iChild

iChild by alfanth
iChild, a photo by alfanth on Flickr.
"in our generation, hi - tech gadget our toy". 

 Tergantikannya mainan anak - anak oleh gadget2 canggih, adalah sebuah fenomena menarik, terlepas dari sisi positif maupun negatif yang didapat. Ini hanya secuil potret yang saya temukan, dan tidak mewakili keadaan anak generasi kekinian secara umum.

Sunday, June 23, 2013

Lagu Indonesia Raya versi Dangdut

Kira - kira kalo Indonesia diaransemen jadi dangdut, campur sari atau keroncong itu boleh ga ya? udah bosen sama lagu indonesia yang dinyanyiin dengan cara seremonial terus. The Star spangled banner aja udah sering di-aransemen dalam bentuk jazz blues dsb. Kita punya musik asli dalam negeri yang harusnya bisa nyatu sama lagu kebangsaan kita sendiri.


Tuesday, June 11, 2013

Kesenjangan

keep flying

foto dari atas genteng rumah. 

gedung tinggi menjulang di pusat kota, dan gedung - gedung kumuh di pinggiran kota adalah potret dari tingginya kesenjangan ibu kota.


Wednesday, June 5, 2013

Lewat Isi Pesan



setelah memakan waktu satu setengah bulan akibat digarap cuma pas lagi kepengen...
Kamar Kos Record ©
Verse
Jejali dunia dengan setumpukan makna
yang menjadi pembenaran
Refrain
Dan tak tersadar
ku menjadi pasar
yang kau ciptakan
lewat isi pesan
membentuk makna
jalan pikiran
dalam kepentingan
Verse 2
Penuhi kepala dengan anomali dunia
dan menjadi kewajaran
*back to refrain*
*melodi
Reff terakhir
Penuhi kepala dengan anomali dunia
dan menjadi kewajaran
dan tak tersadar
ku haaaa...aaa...

Wednesday, May 29, 2013

Mendengarkan atau menikmati musik?

Menurut refleksi diri, mendengarkan musik di era sekarang bagi saya adalah sebuah 'selingan'. Hampir setiap hari aktivitas mendengarkan musik saya dilakukan bersamaan dengan aktivitas lain, seperti mengerjakan tugas, baca, jalan, dan mengendarai motor (untuk yang satu ini jangan ditiru, tapi mengendarai motor tanpa musik itu terasa hambar heh). Ya, hampir setiap hari saya menggunakan musik sebagai 'teman' ketika melakukan sebuah aktivitas lain.

Jika teringat masa SD dulu dan juga melihat masa sekarang,  sepertinya ada perbedaan dari cara saya menikmati musik. Saat SD dulu, sekitar tahun 2001 2002-an, saya belum memiliki DiscMan, apalagi MP3 player. Yang ada adalah radio + Tape. saat itu saya masih menggunakan pemutar kaset, Aseli pula. Setiap pulang sekolah langsung terbang ke kasur di kamar pribadi  sambil membawa pemutar kaset dari kamar orang tua (waktu itu cuma punya satu, yang sering make bokap nyokap). Kaset - kaset yang saya miliki kebanyakan musisi Indonesia, tahun 90-an hingga 2003-an musik Indonesia masih terbilang berkualitas, waktu itu saya sangat menyukai musik pop Indonesia macam Dewa 19, Padi, Sheila on 7, Jikustik, Peterpan dsb. Musik "barat" yang benar- benar tahu pada saat itu hanya the beatles, karena ibu saya suka the beatles dan cukup sering memutarnya. Kalau ada yang lain mungkin Linkin Park. Saat SD dulu saya tidak suka musik barat.

Pada waktu itu cara saya mendengarkan musik di kaset  juga cukup unik dan sangat 'selo', yaitu mendengarkan secara berurutan! Dari lagu pertama sampai akhir, ga ada yang di-rewind atau forward, Kalau ada satu atau dua lagu yang kurang catchy atau yang terdengar biasa aja di telinga, putaran kaset tidak saya forward dan hanya saya tunggu hingga sampai ke lagu favorit yang saya suka. Momen saat "sampai" ke lagu favorit itu yang berharga. Kurang lebih biasanya dalam satu kaset ada 10 lagu, jadi saya bisa menghabiskan waktu mendengarkan musik selama satu jam. Saat mendengarkan musik, tidak ada aktivitas lain yang saya lakukan kecuali membaca lirik lagu sambil nyanyi - nyanyi di kamar. Sambil tiduran, meresapi lirik - lirik yang ada di dalamnya. Walaupun kebanyakan ga ngerti apa maksudnya....

Kembali ke tahun 2013. Sekarang sudah ada iPod di tangan. Software pemutar musik di komputer. Jika ingin  memutar lagu favorit tinggal tekan, tidak perlu repot - repot forward atau rewind. Yang didengarkan biasanya lagu - lagu favorit saja. Kini, cukup jarang saya mendengarkan satu album secara berurut dari awal hingga akhir. Selain itu, aktivitas mendengarkan musik tidak pernah dilakukan secara tunggal, pasti ada aktivitas lain yang mengiringi, dan aktivitas lain tersebut lebih utama dibanding musik yang didengar. Musik hanya sekedar selingan, dan yang 'nemenin'.

Sesekali saya mencoba untuk mengenang masa SD, dengan mendengarkan musik secara 'tunggal', dan itu terasa cukup berharga. Berbaring di kasur, dengan memutar satu album musik. Meresapi lirik, aransemen, dan 'nyawa' dari lagu tersebut.  Apalagi sekarang sudah ada "headphone" yang membuat jarak kita dengan musik semakin dekat dan intim. Mencoba mendengarkan secara detail suara alat musik yang saling saut - sautan. Memperhatikan cara sang SE mem-panning suara kiri dan kanan.  Menemukan suara yang tidak sadar keberadaannya jika kita mendengarkannya sambil lalu, seperti suara backing vocal, shake, tambourin dsb, yang memang sengaja diletakkan di belakang suara - suara alat musik lain lain.  Cukup nikmat, apalagi ditemani secangkir teh sebagai 'selingan'.