Saturday, June 30, 2012

Jangan Membuang Buang Waktu disaat Membuang Buang Waktu

Jangan membuang buang waktu disaat membuang buang waktu. Kenapa? karena bila kita mampu mengoptimalisasikan proses membuang buang waktu dengan tidak menyelipkan aktivitas membuang buang waktu yang lain dalam aktivitas membuang buang waktu kita, maka akan menciptakan aktivitas membuang buang waktu yang efektif dan optimal! Berbeda  jikakalaukalau kita membuang buang waktu disaat membuang buang waktu, maka tak ada hasil yang kita dapat. Outcome dari aktivitas membuang buang waktu kita tidak akan maksimal dan produktif, begitu juga dengan proses membuang buang waktu versi kedua yang mengganggu proses membuang buang waktu kita yang pertama. Semua proses membuang buang waktu tersebut hanya akan menghasilkan waktu yang terbuang. 

Pada dasarnya proses membuang buang waktu itu sama seperti proses tidak membuang buang waktu, sama2 produktifnya. Saya akan memberikan salah satu contoh aktivitas yang secara umum dikategorikan sebagai proses membuang buang waktu,  "ngepoin orang" atau bahasa inggrisnya "kepo-ing", jika kita mampu fokus dan dapat mengoptimalisasikan proses mengkepoin orang dnegan baik, maka hal produktif yang dapat kita peroleh dalam proses kepoing adalah terkumpulnya informasi (yang kita butuhkan) secara mendalam dari sang narasumber (korban kepo). Lain halnya jika kita ngepoin orang sembari melakukan aktivitas yang secara umum juga dikategorikan sebagai proses membuang buang waktu, "nulis blog yang judulnya Jangan Membuang Buang Waktu disaat Membuang Buang Waktu", misalnya, maka aktivitas nulis blog kita akan menggangu proses mengkepo sang narasumber kepo, sehingga anda tidak fokus dalam proses kepo-ing tersebut..Aktivitas blogging kita pun juga tidak fokus karena dilakukan berbarengan dengan proses kepo-ing..So, bijaklah dalam membuang buang waktu! Jangan siasiakan waktu kita yang terbuang itu, dan optimalkan proses membuang buang waktu kita dengan tidak membuang buang waktu disaat membuang buang waktu :)

Sunday, April 29, 2012

Kaos Kaki Berlobang Tiga





Nih, Kaos kaki Berlubang Tiga..ada tiga lubang disana, kecil, sedang, dan besar..berbeda dengan lobang yang paling besar, dua lobang yang lainnya baru saja berkembang biak, dan proses pelobangan terjadi secara alamiah, sesuai dengan hukum alam...jika memakai kaos kaki berlubang tiga ini, tumit dan jempol kaki akan terasa lebih sejuk..sehingga sikil anda akan lebih sehat.




Saturday, April 28, 2012

Cara Gaul Bikin Coklat Leleh..hmm

Ternyata energi panas yang dipancarkan  laptop itu bisa dimanfaatkan loh! Buktinya kemaren gw sukses bikin coklat leleh dengan memanfaatkan pancaran panas laptop toshiba gw yg kayaknya bagian dalamnya udah berdebu jadi latopnya gampang panas sob...tapi gapapa, masalah yang ada gw bisa manfaatin untuk sesuatu yang ber-man-fa'at..yaitu, bikin coklat leleh!! yum..caranya gampang, lo tingga taro coklat batang di sebelah laptop lo, tunggu hingga beberapa menit, dan tiriskan...ajaib! coklat anda yang tadinya mengeras akan meleleh!..tapi awas netes kemana - mana, kayak foto gw yg diatas taplak gw jadi korban tetesan coklat leleh. tapi ujung2nya gw colek terus gw makan juga...cara ini sangat bermanfaat bagi anda2 yang di kos2annya ga ada kompor,atau lagi ga ada cahaya matahari, atau tubuh lo lagi ga meriang jadi ga bisa manfaatin panas tubuh,,tapi terbukti cara ini terbilang sangat ekonomis, higienis serta idealis!

Thursday, January 19, 2012

PT KOMODO MOBIL INDONESIA



Cuma ngebayangin kalo ada perusahaan mobil buatan asli Indonesia yang pake ikon KOMODO, fauna yg cuma ada di INDONESIA,,,kan keren buat nyaingin JAGUAR :)..
sebenernya buat tugas dkv..tapi.. dibuang sayang..

Thursday, December 29, 2011

Kampanye Politik dan Budaya Populer



Apa yang terjadi apabila budaya populer masuk ke dalam ranah politik? Dua unsur yang sepertinya sangat bertolak belakang untuk dapat dipadukan, namun fenomena tersebutlah yang telah terjadi hari ini. Politik dan budaya merupakan unsur yang terbuka sehingga keduanya dapat melakukan interpenetrasi untuk melakukan penyatuan kode yang membentuk suatu perilaku politik kultural. Namun dalam interpenetrasi politik kultural ini, budaya seakan berada dalam posisi yang dimanfaatkan untuk dapat memenuhi kebutuhan politik. Pemanfaatan budaya populer dalam sebuah perilaku politik dianggap sebagai strategi baru dalam dunia politik. Tujuannya adalah untuk dapat memenuhi kepentingan politis para aktor politik.Seiring perkembangan zaman dan pesatnya modernitas, para aktor politik semakin sadar bahwa pendekatan secara kultural sangatlah penting untuk dapat meraih perhatian publik secara luas. Budaya populer salah satunya dimanfaatkan sebagai kendaraan yang diarahkan kedalam ranah politik oleh para aktor untuk dapat memenuhi kebutuhan politik mereka.

Penggunaan budaya populer sebagai alat politik dirasa cukup cerdas, melihat budaya populer sangat identik dengan generasi muda, maka sekiranya dengan adanya unsur pop culture dalam sebuah iklan politik maka sebuah kampanye yang bersifat politis dapat terkemas secara lebih menarik dan jauh dari kesan high context yang sudah melekat dalam dunia perpolitik. Kondisi ini nantinya akan mempermudah para aktor politik dalam merangkul generasi muda yang terkenal dengan apatisme mereka terhadap dunia politik. Terlebih lagi peran budaya populer yang mewakili suara mayoritas merupakan sebuah sasaran empuk yang dapat dimanfaatkan untuk memperoleh dukungan politis dari khalayak secara luas. 

Pemanfaatan budaya populer sebagai alat politik salah satunya dapat dikemas dalam bentuk kampanye iklan, seperti tv commercial, poster, banner, baliho dan media iklan lainnya.Pemanfaatan eksistensi budaya populer dalam masyarakat oleh aktor politik yang dikemas dalam bentuk iklan cukup marak berkembang di dunia perpolitikan Amerika. Salah satu politikus yang cukup gencar memanfaatkan keberadaan pop culture dalam masyarakat adalah Barrack Obama ketika menjalani pemilihan presiden Amerika pada tahun 2008. Ketika masih berstatus sebagai calon presiden dari Partai Demokrat, dengan cerdas Obama mencoba merangkul masyarakat Amerika melalui pendekatan kultural melalui wadah iklan politik. Sebagai contoh, ketika masih dalam masa kampanye Presiden pada tahun 2008, Obama menggunakan musik populer sebagai media dan wadah kampanye politiknya. Ia memanfaatkan artis – artis populer dalam bidang musik untuk menciptakan sekaligus merekam sebuah lagu easy listening yang berjudul “yes we can!”, sebuah judul lagu yang sebenarnya juga merupakan jargon dari kampanye Obama itu sendiri. Lagu tersebut akhirnya dipublikasikan melalui media video clip agar dapat dipublikasikan kepada khalayak melalui situs pengunduh video seperti Youtube, Metacafe, dan lain sebagainya. Melalui strategi ini, Obama sukses mengajak generasi muda untuk tertarik dengan isu politik dan pada akhirnya mangarahkan mereka untuk mendukung dirinya terpilih sebagai presiden Amerika ke-44.

Masih memanfaatkan musik populer, pada cover majalah Rolling Stone edisi bulan July 2008 wajah Obama terpampang bersama headline majalah yang berjudul “A New Hope”. Jika diperhatikan, penampakan Obama di cover majalah Rolling Stone terlihat aneh. Pasalnya Rolling Stone merupakan majalah yang membicarakan mengenai isu musik populer di Amerika bahkan internasional. Namun bisa – bisanya Obama yang bergerak dalam ranah politik, dibicarakan oleh sebuah majalah yang bergerak dalam bidang musik populer. Obama telah sukses memanfaatkan media cetak yang tidak berkecimpung dalam ranah politik dan intelektual, bahkan majalah ini bersegmentasi pada orang – orang yang apatis terhadap dunia perpolitikan seperti seniman, musisi dan lain sebagainya. Hal ini adalah sebuah pencapaian yang luar biasa dimana Obama dapat menjangkau ranah yang sebenarnya jauh dari jangkauannya.

Pemanfaatan budaya populer melalui wadah media oleh para aktor politik sudah dianggap sebagai strategi politik di era kekinian. Pendekatan politik yang dilakukan secara kultural mulai gencar diberikan. Namun sayangnya fenomena ini masih jarang terjadi di Indonesia, padahal Indonesia merupakan bangsa yang memiliki unsur kebudayaan populer yang cukup beragam. Sekiranya dunia perpolitikan kita perlu untuk belajar dengan Amerika dan dunia barat dimana keberadaan budaya populer dan media dimanfaatkan secara cerdas untuk dapat menghasilkan output positif dalam dunia perpolitikan.


Gambar 1 : Pemanfaatan "pop art" melalui kampanye dalam bentuk poster

Gambar 2 : Pemanfaatan popularitas olahraga basket di Amerika, dimana digambarkan bahwa Obama hobi bermain basket dalam kehidupan sehari harinya.

Gambar 3 : masih memanfaatkan popularitas olahraga basket, dalam kampanye politiknya, terlihat salah satu pelatih basket di Amerika memberikan kostum secara simbolis kepada Obama.
Gambar 4 : Obama menjangkau wilayah populer, kali ini dalam bidang musik.







Thursday, November 17, 2011

'United and Rising' yang (hanya) Sekedar Frasa


Penyelenggaran Sea Games di Palembang - Jakarta sudah berjalan tepat selama tujuh hari sejak dimulai pada tanggal 11 November 2011 kemarin. Berbagai cabang olahraga telah dipertandingkan bahkan dalam seminggu ini sudah 815 medali yang dikalungkan kepada para atlet. Namun apakah hajatan dua tahunan yang telah berjalan selama sepekan ini sudah memberikan dampak positif dalam menjalin hubungan baik antar negara – negara asia tenggara? Nanti dulu, iklim hubungan yang kurang sejuk masih saja muncul antara Indonesia dengan Malaysia, kali ini di arena olahraga. Seakan pertandingan yang dilakukan malah semakin meningkatkan rivalitas yang tidak sehat antara kedua negara satu rumpun ini yang sebelumnya sudah berseteru dalam ranah politik dan hukum.
Pertandingan semifinal Sea Games untuk cabang olahraga sepakbola yang diadakan semalam pada tanggal 17 November 2011 dapat dijadikan sebuah cerminan. Iklim pertandingan yang panas, penuh dengan pelanggaran, dan banjir kartu kuning serta satu kartu merah merupakan pemandangan yang dapat disaksikan pada laga tadi malam. Beberapa Tackle yang diberikan oleh para atlet dari kedua kubu seakan diniatkan untuk mencederai lawan, bukan untuk merebut bola dari lawan. Sangat disayangkan apabila rusaknya hubungan Indonesia dan Malaysia juga dibawa dalam ranah pesta olahraga.
Jika aletnya saja panas bagaimana dengan supporternya? Tentu saja supporter akan semakin emosional melihat para jagoan – jagoan mereka yang juga bermain secara emosional. Sorakan yang bersifat provokatif dan bernada negatif cukup santer diberikan. Contohnya tadi malam stadion sangat heboh dengan suara supporter yang bersorak “huuuu..” hanya karena keja kiper Malaysia terpeleset. Sungguh hal sepele yang sangat dibesar- besarkan yang dapat meningkatkan panasnya iklim pertandingan.
Mungkin kita lupa dengan bunyi Tagline Seagames 2011 yang sering terpampang pada billboard, baliho, spanduk, dan media publikasi lainnya. Padahal alangkah baiknya apabila kalimat ‘United and Rising’ dapat dipahami dan diimplementasikan oleh para atlet dan supporter, tidak hanya sebagai formalitas dan angin lalu saja. Sama sekali tidak tercermin ‘United’ pada laga tadi malam. Padahal harapannya dengan diadakannya sea games mampu menciptakan persatuan dan hubungan yang baik antara negara - negara di asia tenggara.
Alangkah baiknya jika pertandingan olahraga di sea games 2011 dianggap sebagai sebuah laga persahabatan namun tetap bersifat kompetitif. Janganlah kita membawa konflik yang sudah terjadi antara Malaysia-Indonesia kedalam ranah olahraga. Karena dalam ranah olahraga sendiri sudah sangat kental dengan konfrontasi dan persaingan, tentunya akan menimbulkan hal negatif apabila persaingan ini disikapi secara tidak sehat dan saling menjatuhkan.
Penulis berharap tercipta sportifitas dan suhu yang lebih dingin pada laga selanjutnya antara Malaysia-Indonesia dalam cabang olahraga apapun. Hal ini kembali kepada para atlet dan supporter untuk bersikap lebih dewasa dan tetap menjunjung tinggi sportifitas dalam setiap pertandingan yang diselenggarakan. Tentunya kita menginginkan terbentuknya persatuan dan hubungan yang lebih harmonis antara Indonesia - Malaysia yang kali ini (seharusnya) dapat dimediasi oleh ajang olahraga Sea Games sesuai dengan tagline yang dikampanyekan, "united & rising".

Friday, September 30, 2011

sekarang 'gaul', besok 'alay'

perkembangan zaman dapat merubah term 'gaul' menjadi 'alay'. Tentunya perubahan ini memakan waktu yang tidak sebentar bahkan kita terkadang tidak menyadari bahwa perubahan tersebut terjadi. Sebagai contoh, mungkin kita pernah ingat mengenai tulisan dengan huruf besar kecil. Menyusunnya saja membutuhkan tenaga berlebih karena harus mencet2 tombol shift dengan frekuensi lebih sering. Tapi ingat bahwa style seperti itu pernah populer dan saya pernah rela berlelah lelah menekan tombol shift lebih sering dan memeras otak lebih keras untuk menyeleksi huruf mana yang harus dibesarkan hanya agar dianggap keren (ini labil) . Dahulu kala, muda mudi, termasuk saya (mungkin skrg udh tua) menganggap bahwa tulisan dengan hruf gEdE KeCiL itu GauLL..Tetapi mari kita lihat realita hari ini bahwa anggapan alay telah terbentuk bagi orang yang menggunakan tulisan besar dan kecil. Ternyata telah terjadi pengkhianatan yang begitu masif kepada 'style huruf gEde keCil' oleh para mantan fans2nya.

Contoh lain, dapat saya lihat ketika membuka friendster dan menemukan foto - foto lama sewaktu saya smp. Hati saya berkata, 'ih gw dulu alay bgt ya' sambil melihat culunnya saya di dalam sebuah foto yang tercipta akibat proses mengcapture diri sendiri dengan hp dari sudut 180 derajat. Padahal sewaktu pertama kali mengupload foto tersebut, saya berpendapat bahwa foto tersebut adalah foto tergaul yang pernah saya miliki. Namun 6 tahun kemudian malah saya sendiri yang berpendapat bahwa foto tersebut 'alay'.

Fenomena ini menandakan bahwa sesuatu yang dulunya memiliki status 'gaul' nantinya berubah status menjadi 'alay'. Perubahan persepsi gaul menjadi alay merupakan bukti terjadinya sebuah proses perubahan dan dinamika kehidupan yang memunculkan keragaman. Sebuah gaya hidup gaul yang baru adalah embrio dari lahirnya gaya hidup alay yang baru.